PALANGKA RAYA – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Palangka Raya melalui Seksi Bimbingan Kemasyarakatan dan Perawatan (Bimkemaswat) melaksanakan kegiatan asesmen psikologis terhadap warga binaan sebagai bagian dari upaya pembinaan serta pemenuhan hak di bidang kesehatan mental, Jumat (23/1/2026).
Kegiatan asesmen psikologis tersebut dilaksanakan bekerja sama dengan peserta magang Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia dan dilakukan secara bertahap terhadap warga binaan yang membutuhkan pendampingan khusus.
Asesmen ini bertujuan untuk memetakan kondisi kejiwaan warga binaan, mendukung proses penyesuaian diri selama menjalani masa pidana, serta menjadi bahan pertimbangan dalam pelaksanaan program pembinaan lanjutan di Lapas Palangka Raya.
Kepala Lapas Kelas IIA Palangka Raya Hisam Wibowo mengatakan bahwa asesmen psikologis memiliki peran penting dalam mendukung keberhasilan pembinaan warga binaan.
“Melalui asesmen psikologis ini, kami ingin mengetahui kondisi kejiwaan warga binaan secara lebih mendalam, sehingga program pembinaan yang diberikan dapat tepat sasaran dan sesuai dengan kebutuhan masing-masing individu,” ujarnya.
Menurut Hisam, kondisi kesehatan mental yang stabil sangat berpengaruh terhadap perilaku warga binaan, kepatuhan terhadap tata tertib, serta kesiapan mereka untuk kembali ke masyarakat setelah menjalani masa pidana.
Sementara itu, Kepala Seksi Bimkemaswat Lapas Palangka Raya menjelaskan bahwa asesmen dilakukan melalui metode wawancara, observasi, serta pengisian instrumen psikologi yang telah ditetapkan.
“Hasil asesmen ini akan menjadi dasar dalam penyusunan rekomendasi pembinaan, pendampingan, maupun rujukan layanan lanjutan apabila diperlukan,” katanya.
Ia menambahkan, asesmen psikologis tidak hanya bertujuan mendeteksi gangguan kejiwaan, tetapi juga untuk melihat potensi, kemampuan adaptasi, serta kondisi psikologis warga binaan selama menjalani masa pembinaan di dalam lapas.
Pelaksanaan asesmen psikologis ini merupakan bagian dari komitmen Lapas Palangka Raya dalam mewujudkan pembinaan yang humanis, komprehensif, dan berorientasi pada pemulihan, sejalan dengan prinsip pemasyarakatan.
(Ril/Red)

